Masalah limbah tinja

MASALAH TINJA/KOTORAN MANUSIA DI LINGKUNGAN KITA

Penanganan masalah Tinja bukan masalah sepela. Seseorang tiap harinya membuang tinja severat 125 – 250 gram. Jika saat ini penduduk Kec. Simpenan berjumlah sekitar 50.000 jiwa, maka setiap harinya bisa menghasilkan sekitar 12,5 ton tinja. Selain jumlahnya yang begitu banyak, tinja juga memiliki potensi dampak dari ke-4 kandungannya yang dapat merepotkan masyarakat :

1. MIKROBA
Tinja manusia mengandung mikrona yang sebagian diantaranya tergolong sebagai mikro patogen, seperti bakteri Salmonela typhi penyebab demam tifus, bakteri Vibrio cholera penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan vieus penyebab polio. Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri coli-tinja.
Tingkat pentyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi. Tifus mencapai 800 kasus per 100.000 penduduk, tertinggi di Asia. Diare mencapai 300 kasus per 1.000 penduduk. (ma’af itu data Depkes tahun 2006).

2. MATERI ORGANIK
Sebagian besar merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna. Bentuknya dapat berupa karbohidrat, dapat pula berupaprotein, enzim, lemak, mikroba dan sel-sel mati. Akibatnya sekitar 75% sungai tercemar oleh materi organik dari buangan rumah penduduk. Air sungai yang tercemar bahan tersebut akan mengakibatkan air mengeluarkan bau tidak sedap dan berwarna hitam.

3. TELUR CACING
Seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut kita. Sebut aja cacing cambuk, cacing gelang, cacing tambang dan cacing kermi. Satu garam tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut orang lain. Ma’af, anak cacingan adalah kejadian yang dianggap biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk, cacing gelang, cacing kermi. Prevalensinya bisa mencapai 70 % dari balita.

4. NUTRIEN
Umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfat (P) yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekittar 25 mg dan fosfat seberat 30 mg. Senyawa nutrien memacu pertumbuhan gangga (algae). Akibatnya, warna air menjadi hijau. Gangga menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan air lainnya mati. Fenomena yang disebut eutrofikasi ini mudah dijumpai, termasuk di waduk, danau maupun kolam-kolam bahkan genangan air pembuangan yang tergenang yang tidak mengalir !!

Semua tahu, timja dapat membawa banyak masalah. Sayangnya, tidak semu amau dan mampu berbuat yang tepat. Berbagai contoh masalah sanitasi jamban dan tinja dapat kita jumpai di kawasan pemukiman. Jangan hanya menuding kawasan kumuh. Masalah sanitasi juga ada di wilayah pemukiman elit. Jangan juga hanya menuduh si miskin, masalah sanitasi dapat pula diakibatkan si mampu. Bahkan petugas juga bisa keliru. Misalnya ??

- MCK yang tidak berfungsi. Selain usang atau tidak terawat, banyak juga akibat tidak ada air. Yang lebih menyedihkan, ada MCK tidak pernah dapat dipergunakan sejak persemiannya. Boleh jadi akibat salah konstruksi atau mungkin masyarakatnya yang belum siap.
- Septic tank bocor. Akibatnya, sekitar 70% air tanah di daerah perkotaan sudah tercemar oleh bakteri coli-tinja. Padahal separuh penduduk perkotaan masih menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air hariannya.
- Jamban yang asal-asalan. Ada 35% jamban di kawasan perkotaan yang tidak ada air bersih, tidak ada atap bahkan tidak tersambung ke septik tank atau sejenisnya. Contohnya, jamban “helikopter” di pinggiran sungai atau jamban rumah yang mengalirkan tinjanya ke sungai yang berada di dekatnya.
- Saluran seloka tersumbat. Walau harusnya mengalirkan air hujan, selokan nyatanya juga digunakan untuk menampung air kakis dan juga sampah. Akhirnya selokanpun jadi sarang dari berbagai sarang penyakit.
- Mencuci dan mandi disungai tercemar. Akibat keterbatasan akses air bersih penduduk maíz banyak yang menmanfaatkan air sungai untuk keperluan mandi dan mencuci. Padahal sungai-sungai tersebut umumnya sudah tercemar.
- Luang air besar sembarangan. Lebih dari 12 % penduduk perkotaan sama sekali tidak memiliki akses ke sarana jamban (bagaiaman yg di desa ¿?). artinya belasan juta penduduk perkotaan juga maíz membuang tinja langsung di kebun, sekolah, ataupun sungai.

TANPA JAMBAN PEREMPUAN LEBIH DIRUGIKAN
Suevei di Madang menunjukan bawhwa soal sanitasi merupakan prioritas nomor dua untuk kaum perempuan. Bagi kaum laki-laki, sanitasi hanya menempati prioritas ke delatan. Selain itu dalam banyak komunitas, perempuanlah yang mengusulkan bahwa keluarga harus memiliki jamban di rumah. Kenapa ??

Dibandingkan laki-laki, perempuan lebih butuh tempat yang aman dan nyaman untuk buang air, dan tempat itu harus bebas dari penglihatan orang lain. Itu sebabnya, perempuan lebih mendambakan adanya jamban yang tertutup, entah di dalam atau di dekat rumah. Seorang ibu juga ingin memastikan bahwa dirinya dan anknya bebas buang air kapan saja di tempat ayang aman, walaupun dilakukan di malam hari. Perempuan juga yang paling sering bertanggung jawab atas kebersihan jamban keluarga. Mereka akhirnya lebih tahu pilihan jamban yang paling tepat sesuai kebiasaan keluarga, ketersediaan air, dan lain sebagainya. Karena itu, perempuan patut dilibatkan dalam upaya peningkatan layanan sanitasi.




Sedot WC Jogja
Phone : 0851 0187 7711
Cepat & Bersih !!!

Disadur dari : sanitasi, POTRET, HARAPAN DAN PELUANG, BAPENAS`2006